Berat memang. Tapi, jangan berhenti, ya?
"Selamat datang kepala dua."
Kata seorang perempuan pada tiga tahun silam. Sewaktu masa melepas kepala satu pada usia manusia. Sewaktu dihadapkan dengan kenyataan, bahwa perjalanan kehidupan terasa begitu cepat membawa kita pada keadaan yang jauh lebih serius. Iya. Yang selanjutnya akan bertemu 'dewasa'. Yang mau tidak mau harus mulai mempersiapkan pundak yang kuatnya berlipat. Katanya, perjalanannya akan lebih rumit. Dan mungkin, akan menyita banyak tenang, serta jam tidur.
Kalimat-kalimat yang terpapar itu tidak ada yang berdusta. Semua benar. Apa saja yang telah disebutkan memang telah datang dan menuntut manusianya untuk jadi berani. Untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Untuk jadi yang siap mengantongi bekal kuat yang dibutuhkan dalam perjalanan panjang ini.
"Bagaimana aku akan menjalani hari-hari berat itu?"
"Menjadi apa aku nanti?"
"Mengapa aku masih saja stuck di sini, sementara orang-orang di luar sana sudah banyak yang sampai pada tujunya?"
"Mengapa aku selalu gagal?"
"Mengapa aku selalu merasa kecil?"
Mau tidak dipikirkan, ya, bagaimana. Pertanyaan-pertanyaan itu justru menjadi boomerang dalam kepala. Yang tidak tahu cara menghentikannya. Yang tidak mengerti bagaimana cara meredakannya. Sungguh menyiksa karena kita tidak bisa semudah itu untuk mengendalikannya. Bahkan pikiran-pikiran buruk itu seperti rayap yang pelan-pelan memakan habis kewarasan. Mengerikan. Tetapi kita tidak bisa lari dari keadaan itu. Kita terjebak, lalu terus dipaksa untuk menikmatinya.
Seperti hujan dengan rintiknya yang terus berjatuhan. Mungkin seperti saat belum waktunya Tuhan meredakan, ia akan tetap membasahi bumi. Ia akan tetap datang dan terjadi terus-menerus. Tuhan yang menghendaki. Manusia tidak bisa apa-apa selain melangitkan harap pada bait-bait doa yang terapal dengan banyak semoganya.
"Hidup tanpa sebuah kalimat tanya, 'kenapa?' itu berat banget rasanya. Kaya seakan-akan kita dipaksa untuk sendirian, padahal di bumi ada miliaran manusia yang tinggal. Dan pada akhirnya, dari sanalah, sebagian manusia akan merasa kalah dengan hidupnya," kata seorang perempuan berpakaian hitam putih.
Kakinya menggantung di tepi roof top rumah sakit dua belas lantai. Rambutnya terlihat acak-acakan dengan bekas gulungan yang tidak lagi berbentuk sempurna. Kemeja putih yang ia kenakan tampak lusuh dan rok span sepanjang lutut yang robek bagian ujungnya.
"Baru saja aku ingin menyampaikan kalimat tanya itu ke kamu, Ra," cetus lelaki dengan seragam putih khas seorang dokter.
"Dan mirisnya, bahkan mereka yang memiliki 'ingin' tetap saja menjadi pihak yang terlambat," sambung perempuan itu.
Helaan nafas panjang terdengar dari arah laki-laki yang baru saja memasukkan stetoskop ke dalam saku kemejanya. "Maaf karena kalah cepat dengan kecewamu. Tapi aku akan tetap menyampaikan ini: Kenapa, Glora? Ceritakan apa saja padaku. Semuanya. Dan mari untuk tersenyum lagi."
Seulas senyuman tipis yang nyaris tidak terlihat, cukup menjelaskan bahwa semuanya memang sedang tidak baik-baik saja. Ada yang menahan senyum manisnya untuk tidak terbit, kala seseorang sedang mendambanya dengan sangat.
"Aku hanya ingin punya rumah, Hem. Yang siap menampung aku ketika badai datang ataupun kemarau panjang. Yang memiliki kehangatan untuk mendekap dingin ku yang kadang nyaris mematikan. Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan. Tapi memang itulah yang aku butuhkan," ucap Glora dengan rasa sesak yang tertahan.
"Berat, ya, hari ini? Mau ku peluk berapa lama, Ra?" tanya laki-laki pemilik nama lengkap Hema Sanjaya, pada seorang perempuan di sebelahnya.
"Satu juta hari, Hem," jawab Glora yang kemudian terjatuh dalam dekapan Hema dengan cukup lama.
Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Menumpahkan seluruh keresahan hatinya tanpa sisa. "Aku gagal lagi, Hem. Kata 'semangat' dan 'ayo coba lagi' yang seharusnya aku dengar ketika pulang ke rumah, justru beralih menjadi kalimat tragis yang menusukku berulangkali."
Glora Bunga Adisa. Sang empu nama itu, hari ini dinyatakan gagal lagi dalam seleksi masuk calon pramugari, entah yang keberapa kali. Percobaannya selalu membuahkan hasil yang tidak memuaskan. Baik untuk dirinya sendiri atau juga semua keluarga yang telah menaruh harapan besar di pundaknya.
"Harusnya tidak apa-apa, Ra. Mungkin memang belum hari ini. Tapi aku yakin, pasti ada satu hari di mana saat itu akan menjadi harinya kamu. Tuhan mau lama menemani proses kamu, Ra. Makannya belum dikasih 'sampai' dulu. Sabarnya diperluas lagi, ya, Ra." Kalimat milik Hema yang baru saja didengar oleh yang dituju, rasanya cukup berhasil mengusir beberapa kepingan buruk yang mengisi hatinya.
Glora melepas pelukan mereka. Lalu mengusap wajahnya yang basah karena air mata. "Aku mungkin masih bisa sabar dan sedikit merasa tenang, kalau orang-orang juga tidak menuntut banyak hal sama aku, Hem. Aku ini cuma manusia biasa yang kapan aja bisa ngerasain lelah. Apa mereka pikir aku ini robot yang tidak memiliki perasaan?"
"Itu artinya mereka percaya kalau kamu bisa, Ra. Hanya saja, cara mereka dalam menyampaikan bentuk dukungan itu yang kurang tepat. Di sini, kamu hanya harus yakin dengan diri kamu sendiri. Sudah jauh, kan, jalan yang kamu lewati? Maka dari itu jangan berhenti. Jangan mau kalah sama rasa lelah. Karena kamu jauh lebih kuat dan hebat daripada yang kamu sadari," kata Hema dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Dalam hidup, kadang beberapa waktu akan menawarkan berat dan ringannya beban yang harus manusia pikul di pundaknya. Atau jalan lurus dan berkelok yang mau tidak mau harus manusia lewati dengan segenap kekuatan yang dimiliki. Atau juga dengan gelap-terang yang mewarnai hari-hari bumi dan manusianya sendiri.
Hebat sekali sebenarnya para manusia itu. Tetapi mengapa sedikit sekali yang menyadari?
Ah, mereka akan rugi.
"Aku hanya perlu untuk coba lagi, kan, Hem?" tanya Glora dengan sedikit perasaan ragu.
"Iya, harus percaya. Glora Bunga pasti bisa!" kata Hema seraya tersenyum cukup lebar. "Kalimat itu juga, kan, yang selalu kamu berikan untukku dalam masa berproses dulu?" lanjutnya.
Hanya anggukan kecil yang Glora beri sebagai bentuk balasan. Selanjutnya, ia kembali pada fokusnya mengamati city light yang selalu ditawarkan oleh sang kota metropolitan ketika penghujung hari telah usai. Hema yang duduk di sebelahnya pun mengikuti arah pandangnya.
Di sela-sela sunyi yang sedang terjadi, sebuah suara terdengar dari speaker yang tertempel di dinding dekat pintu, yang menghubungkan lantai paling atas dengan roof top rumah sakit tersebut. Suara Aruma dengan lagunya 'Muak' mulai mewarnai suasana malam itu pada sudut kota. Beberapa menit melodi dan liriknya mengalun, sampai pada satu bagian lirik yang berhasil membuat beberapa bulir air mata milik Glora kembali membasahi pipinya. Bunyi liriknya seperti ini:
Tahukah sakit yang tak terobati
Belum sempat sembuh tertikam lagi
Muak....
"Ah, maaf, aku cengeng hari ini." Kalimat tersebut keluar bersama dengan kekehan kecil yang terdengar samar karena suaranya yang serak.
Hema tersenyum tipis. "Kalau kamu bisa menjadi apa yang tidak semua orang ketahui tentang kamu, ketika sama aku, itu artinya aku hampir berhasil membangun rumah untuk kamu, Ra. Kalau sudah utuh nanti, apa kamu mau tinggal? Aku akan kontrak kamu seumur hidup. Bagaimana?"
Glora tertawa kecil mendengar lelucon itu. Meski setengah maknanya terdengar lebih serius, namun bagi Glora lucu saja mengenai pengajuan yang Hema tujukan padanya.
"Aku cukup tertarik untuk menempatinya. Tapi enggak harus utuh dulu, kok. Asal apa yang aku butuhkan dan yang kamu butuhkan tersedia, artinya rumah itu sudah layak huni," balas Glora dengan nada bicara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Kalau gitu, kita tempati besok. Apa ada penolakan?"
"Ada."
"Kenapa?"
"Aku belum menamatkan buku 'Laut Bercerita', Hem. Dan rencananya, aku mau menyelesaikan besok."
"Ya sudah. Aku juga perlu menjamu pasien VVIP 1x24 jam besok."
Setelahnya, mereka saling berpandangan beberapa saat, lalu tertawa bersama. Kemudian, Hema mengajak Glora untuk bersulang se-cup kopi yang sengaja dibawanya dari kantin rumah sakit. Takarannya yang pas, mengundang senyum manis di wajah perempuan itu. Hema memang cukup hebat dalam mengenal dirinya. Meski sering terlambat dalam melakukan sesuatu untuknya, beberapa hal sangat cukup untuk menebus yang kurang-kurang itu. Dan Glora selalu merasa memiliki perasaan yang seimbang setiap kali berada di dekat laki-laki yang saat ini telah menyandang gelar Dr karena kehebatannya itu.
"Hadiah untuk manusia-manusia hebat itu apa sih, Hem?" Pertanyaan tersebut keluar begitu saja di tengah-tengah keheningan yang sempat menyapa.
"Kebahagiaan. Tapi lebih dari itu, hebatnya manusia akan membawa mereka pada keadaan yang jauh lebih mudah bukan karena memang mudah, melainkan karena hati mereka yang jauh lebih besar dan lapang, juga pundak yang jauh lebih kuat. Itu hadiah yang paling mengagumkan dari Tuhan, Ra," jawab Hema dengan penuh perasaan.
Setelah lagu Somebody's Pleasure - Aziz Hedra selesai diputar, lagu ketiga yang akan menemani mereka bercengkerama di sana adalah Sempurna-nya Andra And The Backbone.
Lagu tersebut mewakili sempurnanya kekuasaaan Tuhan dalam mengatur segala sesuatu di alam semesta ini. Termasuk dengan menjadi penulis skenario terbaik bagi alur cerita manusia. Memberi sedih, dan tak lupa dengan bahagianya. Memberi rumit, dan tak lupa dengan mudahnya. Memberi gelap, dan tak lupa dengan terangnya. Semua lahir dengan keseimbangan yang sempurna.
Yang perlu kita pahami dalam hidup adalah bagaimana menjadi yang terbaik untuk diri sendiri. Karena yang tahu seberapa hebat kita dalam berjuang, seberapa kuat kita dalam bertahan di tengah gelombang yang menikam, seberapa gigih kita dalam menggapai tujuan, adalah diri kita sendiri. Hidup ini sudah begitu keras menghantam, dan tak seharusnya kita juga keras pada diri sendiri.
Janganlah kau tinggalkan diriku...
Takkan mampu menghadapi semua...
Hanya bersamamu ku akan bisa...
Kau adalah darahku...
Kau adalah jantungku...
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku...
Oh, sayangku kau begitu...
Sempurna....
Komentar
Posting Komentar