Ending (Bulan Merah Jambu)

 




Cengkerama manis sepasang manusia

(Siesta Key Beach)





Penutup manis untuk sepasang manusia ini. Biarkan semesta yang memeluk kisah mereka dengan hangat. Biarkan Tuhan dan takdir-Nya yang mengambil alih cerita mereka. Akan berjalan seperti apa dan berakhir bagaimana. 

Untuk sebuah saling yang masih jauh atas seuntai gapai. Untuk sepotong bersama yang masih terkikis dusta. Untuk segenggam rasa yang masih enggan menyapa. Terangkai lah untuk memuja kisah yang segan hidup dalam jiwa yang bising. Terbitlah untuk segala cerita yang melegenda. Terbenam lah untuk memupuk damai yang tersembunyi. 

Tak perlu seterang purnama untuk jadi pemantik suka. Pun tak perlu segelap malam untuk jadi sang damai.

Karena masing-masing manusia memiliki pemujanya. Entah dari binar mata, senyum manisnya, atau caranya dalam menyuarakan gemuruh bumi dan langitnya.  Siapa saja adalah istimewa bagi pengagumnya.  

Serentetan keputusan tidak bisa menjadi akhir dalam sebuah cerita. Bisa saja hari ini telah disudahi, lusa kembali. Atau kemarin telah kembali, esoknya hilang lagi. 

Jadi, bersama atau tidak, bukan itu bagian cerita yang paling sempurna. Melainkan bagaimana rasa itu terbentuk sampai pada akhirnya menjadi jejak karya pada suatu hati yang tak ramai senimannya.

Dengan berakhirnya bulan November ini, sekaligus menjadi penutup cerita Bulan Merah Jambu. Cerita antara Bulan Senjani dengan Prameswara Nugraha. Sepasang manusia yang berdiri di atas serangkaian mau yang tak bersaksi, namun harus disepakati. 





Terima kasih sudah berkenan membaca.

Salam hangat dari Pram & Bulan.

Salam hangat dari Istandna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung Setelah Hujan

Rezeki