Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2022

Ending (Bulan Merah Jambu)

  Cengkerama manis sepasang manusia (Siesta Key Beach) Penutup manis untuk sepasang manusia ini. Biarkan semesta yang memeluk kisah mereka dengan hangat. Biarkan Tuhan dan takdir-Nya yang mengambil alih cerita mereka. Akan berjalan seperti apa dan berakhir bagaimana.  Untuk sebuah saling yang masih jauh atas seuntai gapai. Untuk sepotong bersama yang masih terkikis dusta. Untuk segenggam rasa yang masih enggan menyapa. Terangkai lah untuk memuja kisah yang segan hidup dalam jiwa yang bising. Terbitlah untuk segala cerita yang melegenda. Terbenam lah untuk memupuk damai yang tersembunyi.  Tak perlu seterang purnama untuk jadi pemantik suka. Pun tak perlu segelap malam untuk jadi sang damai. Karena masing-masing manusia memiliki pemujanya. Entah dari binar mata, senyum manisnya, atau caranya dalam menyuarakan gemuruh bumi dan langitnya.  Siapa saja adalah istimewa bagi pengagumnya.   Serentetan keputusan tidak bisa menjadi akhir dalam sebuah cerita. Bisa saja...

Bulan Merah Jambu bagian 2

  Bagian dua—Bulan Merah Jambu "Selamat datang di Negeri Paman Sam, Lan. Apa kabar?" Seseorang mengulurkan tangannya pada Bulan, tepat setelah Ia turun dari pesawat yang sudah membawanya sampai ke sini. Sebuah Negara yang dijuluki sebagai Negeri Paman Sam sejak tahun 1812 lalu. Sebuah negara yang di dalamnya berdiri satu Universitas terbaik di dunia. Ya. Harvard University. Salah satu universitas yang telah merekrutnya untuk menjadi bagian dari orang-orang bergelar hebat pada jajarannya. Sungguh sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Hampir saja tidak percaya, bahwa laki-laki yang sudah tidak ditemuinya selama kurang lebih tujuh tahun itu telah ada di hadapannya sekarang. Dengan ragu, Bulan membalas uluran tangan itu. "Baik. Kamu sendiri bagaimana, Pram?" Tanyanya kemudian. Laki-laki itu tersenyum tipis, "Seperti yang kamu lihat. Pretty good!"  Mereka melanjutkan perbincangan sembari berjalan beriringan keluar dari bandara. Koper besar milik Bulan berada di ...

BULAN MERAH JAMBU

CERPEN – BULAN MERAH JAMBU   Bagian mana lagi yang harus dipersembahkan bumi kepada langit. Jika menjadi gersang saja bumi mampu, agar langit tak perlu menunjukkan tangisnya. Jika menjadi basah saja bumi rela, agar langit tak perlu menahan tangisnya. Jika menjadi satu-satunya yang tiada dua saja bumi pusatkan percaya ke segala penjuru alam semesta. “Bagaimana pendapatmu atas kalimat itu, Pram?” Tanya seorang perempuan manis yang pada malam-malamnya senantiasa menjadi pengamat langit gelap bersama sinar rembulan yang kunjung padam. Laki-laki dengan topi biru di kepalanya itu tersenyum tipis, “Apa yang harus ku katakan, jika setiap kalimat milikmu selalu ada benar dan salah yang terdefinisikan dengan baik. Aku juga punya satu kalimat untuk dipersembahkan malam ini, Lan. Mau dengar?” Perempuan itu mengangguk, mengiyakan. Jika ada yang lebih tenang dari malam adalah saat duduk bersama dengan perempuan pemilik nama Bulan Senjani. Tak perlu menjadi berisik untuk Ia mengerti. Ta...