BULAN MERAH JAMBU
CERPEN – BULAN MERAH JAMBU
Bagian mana lagi yang harus dipersembahkan bumi kepada
langit. Jika menjadi gersang saja bumi mampu, agar langit tak perlu menunjukkan
tangisnya. Jika menjadi basah saja bumi rela, agar langit tak perlu menahan
tangisnya. Jika menjadi satu-satunya yang tiada dua saja bumi pusatkan percaya
ke segala penjuru alam semesta.
“Bagaimana pendapatmu atas kalimat itu, Pram?” Tanya seorang perempuan manis yang pada malam-malamnya
senantiasa menjadi pengamat langit gelap bersama sinar rembulan yang kunjung padam.
Laki-laki dengan topi biru di kepalanya itu tersenyum tipis, “Apa yang harus ku katakan, jika setiap kalimat milikmu selalu ada benar dan salah yang terdefinisikan dengan baik. Aku juga punya satu kalimat untuk dipersembahkan malam ini, Lan. Mau dengar?”
Perempuan itu mengangguk, mengiyakan.
Jika ada yang lebih tenang dari malam adalah saat duduk
bersama dengan perempuan pemilik nama Bulan Senjani. Tak perlu menjadi berisik untuk
Ia mengerti. Tak perlu menjadi bising agar Ia pahami. Laksana purnama tak
bertuan. Bersinar tanpa harus menjelaskan bahwa Ia adalah cahayanya yang indah.
Menjadi damai tanpa harus memendam perasaan sedalam dasar lautan. Bagaimana bentuk
kalimat yang paling tepat untuk menjabarkan sosok Bulan Senjani, rasanya sejauh
ini aku belum menemukannya. Tapi satu hal yang harus mereka tahu, bahwa Bulan Senjani tidak memiliki duplikasi di semesta manapun.
“Pram, Bulan Senjani tidak sesempurna itu untuk kamu
jabarkan dengan kalimat yang paling sederhana sekalipun. Bahkan aku masih
begitu sering memberikan rasa sakit pada sebagian manusia lain,” sanggahnya, yang mengartikan bahwa Ia sama sekali tidak sepakat dengan argumentasi milik Pram—Prameswara Nugraha—itulah namanya yang paling lengkap, sesuai dengan data yang tertulis pada akta kelahirannya di mana pernah Ia tunjukkan pada Bulan sewaktu terpilih menjadi penerima beasiswa prestasi untuk melanjutkan pendidikan S1-nya di Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Bukankah setiap manusia berhak menyampaikan pendapatnya? Terlepas
dari bagaimana anggapan mereka tentang kamu, kalimat milik Pram tidak akan
pernah berubah, Lan. Bulan Senjani dengan damainya,” ungkap laki-laki itu tanpa
ragu. Kemudian, Ia berkata lagi, “Sekarang katakan, Lan, apakah berisikku telah
mengusik damaimu selama ini?”
Beberapa detik setelahnya adalah suasana hening yang terjadi
antara mereka. Bulan dengan tatapan sendunya, Pram dengan tatapan hangatnya. Bahkan
suara dersik angin tidak bisa mengusik barang sedikit.
“Manusia penuh berisik sepertiku, apakah pantas bersanding
dengan damai milikmu?” Pram mengulang kembali kalimatnya.
Bulan tersenyum, meski tidak selebar sebelumnya. “Pram,
untuk jadi damai perlu berisik sebagai alasannya.” Helaan nafas terdengar samar
dari arah perempuan itu. Lalu, sebuah kalimat tercetus kembali, “Aku tahu, ada
sebagian manusia yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dan akan selalu
ada manusia yang penuh sulit untuk bisa memaknai setiap keadaan yang sedang
terjadi. Tapi apa kamu tahu, Pram, dibalik berisiknya manusia memiliki damai
yang tersembunyi. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri berlaku. Mau mencari
dan menjemputnya atau justru tetap diam dalam situasi yang sama untuk waktu
yang lama.”
“Itu bagian sulitnya, Lan. Mengapa harus ada pilihan di
dunia ini? Sementara manusia selalu keberatan perihal memilih.”
“Memang tidak ada jawaban yang spesifik untuk pertanyaan
kamu, Pram. Tapi aku rasa, ada satu pemahaman yang harus kamu tahu, bahwa;
dibandingkan dengan sulitnya menentukan sebuah pilihan, justru akan jauh lebih
sulit lagi jika pilihan itu tidak ada. Karena kita sendiri terlahir atas sebuah
pilihan untuk hidup.” Kalimat itu berhasil mengekspresikan diri dengan penuh.
Kali ini tidak ada suara lagi dari laki-laki itu. Pandangannya terfokus pada satu titik di langit sana. Bulan mengikutinya, kemudian menikmati satu obyek yang sama.
"Aku iri, Lan."
"Dengan?"
"Dengan segala pemikiran yang kamu miliki. Kamu bisa menemukan begitu banyak jawaban atas pertanyaan yang bisa saja bukan hanya dari orang lain, tapi dari diri kamu sendiri. Dan pertanyaan ku yang kesekian kali, apa kamu pernah merasa bingung pada keadaan, seperti yang sering aku rasakan selama ini?"
Sebelum menjawabnya, Bulan membenarkan posisi duduknya terlebih dahulu. Tak lupa juga untuk merapikan jaket yang Ia kenakan agar bekerja dengan maksimal dalam melindungi tubuhnya dari dinginnya angin malam pada dataran tinggi yang tengah Ia tapaki saat ini.
"Pram, coba cari sedikit celah untuk melihat ku dari sisi yang lain. Aku yakin, kamu akan menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Dengan kebiasaan itu yang akan membuat kamu menjadi manusia dengan rasa yang berlebihan. Bukankah setiap dari manusia tentu memiliki lebih dan kurangnya? Begitu juga dengan kamu. Fokus yang berlebihan pada kekurangan yang kamu miliki adalah satu alasan mengapa kamu selalu merasa sulit untuk keluar dari situasi yang kurang nyaman itu." Cukup panjang Bulan menyampaikan katanya. Sampai tak terasa, Pram sudah menghabiskan satu cangkir kopi miliknya.
"Kamu benar, Lan. Pada orang lain, aku selalu pusatkan fokus pada kelebihan mereka, sementara untuk diriku sendiri, tidak pernah berganti selain atas banyak kurang yang tampak dan sengaja ditampakkan. Heh, manusia yang aneh bukan?" Pram terkekeh pelan. Menertawai kebodohan dirinya sendiri yang baru saja Ia sadari sekarang.
Bulan tersenyum tipis, "Tidak apa, Pram. Kamu hanya perlu menyeimbangkan perasaan-perasaan itu."
Pram membalas senyumannya, meski tidak lama. Lalu kembali menyeruput sisa-sisa kopi yang masih mengendap dalam cangkir.
"Lan," panggilnya.
"Kenapa?"
"Kalau kita lagi jauh, kalimat mana yang harus aku ingat agar perasaan khawatir itu bisa hilang?"
****
Ritme kehidupan itu berjalan seimbang, Pram. Episode senang dan sedih akan berlaku sesuai dengan porsinya. Kita cukup jadi biasa saja, agar kadar puas untuk masing-masing rasa itu tidak berlebihan.—Bulan Senjani, 2020.
"Siapa Bulan Senjani, Pram?" Tanya seorang lelaki berseragam orange kepada Pram—sosok laki-laki bertubuh jangkung yang pada senyumnya terukir satu nama sebagai alasannya.
"Perempuan yang lo lihat di siaran berita pagi ini," jawab Pram.
"Serius? Tapi kenapa reporter tadi sebut dia dengan nama.... Bulan Merah Jambu dan bukan Bulan Senjani?" Laki-laki itu masih dengan rasa penasarannya.
Pram kembali membuka lock screen ponsel yang sebelumnya dilihat oleh teman satu profesinya itu. Di mana menampilkan sebuah foto siluet seorang perempuan dengan sederet kalimat miliknya yang selama ini berhasil menjadi teman dalam membunuh rasa khawatir dalam diri Pram.
"Namaku Bulan Senjani, Pram. Merah jambu itu hanya sebatas pilihan warna yang aku sukai," ujarnya sembari mencoba merebut cetakan foto yang berisikan dirinya dalam nuansa gelap yang memberi kesan damai saat diamati.
"Lebih dari itu, Lan, aku tahu," sanggah Pram.
"Apa yang kamu tahu?"
"Menjadi anggota NASA, supaya bisa meneliti warna-warna bulan di langit. Dengan harapan bahwa bulan merah jambu itu benar-benar ada." Pram mencetuskan sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh seseorang beberapa waktu lalu pada langit malam yang membentang luas.
Bulan menundukkan kepalanya saat ini. Merasa malu, atas pernyataan yang baru saja Pram realisasikan.
"Cita-cita mu menarik, Lan. Kalau gitu, aku doakan, semoga bulan merah jambu adalah sesuatu yang ada dan kamu bisa menemukannya."
"Aku malu tapi.... Aamiin deh. Terima kasih doanya, Pram."
"Jadi itu sebabnya, lo jadi astronom di NASA sekarang?" Suara berat milik teman seprofesinya tersebut berhasil membuyarkan lamunan Pram pada cerita beberapa tahun yang telah terlewati tanpa bisa terulang kembali.
Tanpa suara, Pram mengangguk.
"Dan sekarang, dia menjadi psikolog ternama di Indonesia. Bahkan nama Bulan Merah Jambu ada di mana-mana loh, Pram," ucap teman Pram tersebut tanpa mengurangi rasa kagum pada sosok perempuan bernama Bulan Senjani atau Bulan Merah Jambu itu.
Pram hanya tersenyum sedikit. Ia ingat lagi satu kalimat milik perempuan itu, katanya jangan terlalu berlebihan dalam menilai kurang dan lebihnya seseorang. Sebab, manusia adalah makhluk tanpa sempurna yang paling nyata.
"Mm... Jarak kalian berdua sekarang sejauh ini, apa masih ada harapan?" Tanya laki-laki itu lagi—Bagaskara Anuspati—namanya. Dia sama-sama orang Indonesia seperti Pram yang berhasil menjadi bagian dari NASA di negara Amerika Serikat.
"Mau menjadi takdir atau tidak, bukan itu bagian pentingnya, Bas. Tapi lebih sederhana seperti ada rasa senang dan damai selama gue mengenalnya."
****
"Bulan," panggil seseorang.
"Ada apa Kak Zoe?"
Perempuan yang Bulan panggil dengan sebutan Zoe itu lantas mengajaknya untuk berbicara empat mata di sebuah ruangan private milik Zoe sendiri.
"Sebelumnya saya ingin bertanya sama kamu. Apa pencapaian kamu menjadi seorang psikolog hanya sampai di sini?"
"Seperti yang sering Kak Zoe dengar, saya selalu membuka diri untuk segala kesempatan baik di perjalanan hidup saya," jawab Bulan dengan kalimat yang tercetus pasti.
Zoe tersenyum, kemudian mengangguk pelan. "Ya, saya hanya ingin memastikan saja."
"Memangnya ada apa, Kak Zoe?" Tanya Bulan penasaran.
Zoe yang duduk di seberang Bulan, segera memberikan sebuah amplop putih padanya. "Ini untuk kamu. Selamat ya!"
Masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan perempuan yang bernotabe sebagai seniornya itu, akhirnya Bulan mencoba untuk membuka amplop putih tersebut dengan hati-hati.
Setelah Ia baca dengan seksama, pupil matanya membesar saat itu juga. Beralih dengan memandang ke arah Zoe atas rasa ketidakpercayaannya, perempuan itu justru kembali mengulas senyum yang dibersamai dengan anggukan pelan yang mengisyaratkan banyak hal.
"Ini serius Kak Zoe? Saya terpilih menjadi penerima beasiswa prestasi untuk melanjutkan S3 di Harvard University?" Bulan mengulang kembali kalimat yang tertulis pada surat pernyataan yang diberikan Zoe tersebut.
"Iya, Bulan. Ini kesempatan bagus buat kamu. Menjadi wanita cerdas dengan wawasan yang luas adalah pencapaian terbaik dari calon Ibu untuk anak-anak kamu nanti. Gunakan dengan baik kesempatan itu. Saya di sini selalu mendukung kamu dari sisi mana saja yang kamu butuhkan," ucap Zoe sembari berpindah tempat duduk di samping Bulan, lalu meraih bahunya seraya menyalurkan kekuatan.
"Terima kasih banyak, Kak Zoe. Saya pasti akan memanfaatkan dengan baik kesempatan ini. Keberhasilan saya tidak lain juga karena rangkulan Kak Zoe selama ini. Sekali lagi terima kasih, Kak Zoe." Bulan memeluk Zoe dengan cukup erat. Perempuan pemilik gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) itu pun membalas pelukannya dengan penuh rasa bangga.
"Selamat merencanakan pertemuan dengan salah satu anggota NASA di sana, ya. Saya tunggu kabar baiknya dari sini," ucap Zoe kemudian.
Bulan tersenyum manis. "Saya tidak memiliki harapan sebesar itu, Kak Zoe. Untuk sebuah pertemuan, biar saja kuasa dari pemilik alam semesta yang mengaturnya."
Terima kasih sudah membaca.
Salam hangat, Istandna.
Komentar
Posting Komentar