Bandung Setelah Hujan

Pada berhentinya kereta di salah satu stasiun terbesar Kota Bandung, membuat seluruh penumpang yang satu tujuan pun berbondong-bondong untuk turun. Membawa berbagai macam barang bawaan, seperti tas ransel di punggung, koper yang diseret, keresek hitam yang berisi rupa-rupa jenis belanjaan atau ada juga yang hanya membawa diri dan kamera hitam yang mengantung di lehernya. Laki-laki dengan kameranya tersebut membawa serta sebuah buku bersampul hitam dengan gambar bunga edelweis yang semakin menambah kesan estetik saat dilihat. Ditambah dengan ukiran sebuah nama bertuliskan "Sahara Rona" yang justru membuat rasa penasaran kian bertumbuh dalam dirinya. 

"Siapa pemiliknya?" lirih seseorang yang sama.

Alam Mahameru - Mhs.Fotografi ISBI. Tulisan tersebut terpampang jelas pada ID Card yang juga menggantung di lehernya. Laki-laki itu tampak seperti tengah mencari-cari sesuatu di sekelilingnya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, secara berulang kali. Namun raut wajahnya menjelaskan bahwa apa yang ia cari sepertinya tidak ada. Tanpa perlu berlama-lama, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang selalu ia datangi setiap kali langit mendung menyapa Kota Bandung. 

Suasana di penghujung siang kala itu membawanya untuk duduk di salah satu kedai kopi bernama Goedang Kopi Braga. Setelah memesan satu menu kopi favoritnya, ia menatap sejenak buku bersampul hitam yang ada di hadapannya saat ini. Cukup lama nama yang terukir di sana menguasai atmosfer dalam kepalanya. Ketika pesanannya datang, ia menyeruput kopi hitam dengan setengah sendok gula yang telah tersaji dengan elok di atas meja yang ditempatinya. Masih dengan aktivitas yang sama dan juga rasa penasaran yang kian bertambah presentasenya. 

Usai beberapa kali mencoba untuk memberanikan diri, akhirnya ia memilih untuk membuka buku bersampul hitam tersebut. Bukan karena bersikap lancang, namun barangkali dari isi dalam buku itu ada sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk untuk mencari tahu siapa pemiliknya. 

Tiba pada halaman pertama, buku itu menyuguhkan sebuah gambar yang tentu saja tidak asing bagi seorang Alam Mahameru yang merupakan penduduk asli Kota Bandung. Ya. Gambar itu menampilkan sebuah terowongan bumi pasundan yang bertuliskan “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi” -Pidi Baiq. Lalu, tepat di bawah gambar yang tertempel pada lembar pertama tersebut juga terdapat sebuah tulisan tangan yang berbunyi; 

Bandung adalah jatuh cinta.

-Sahara Rona.

Ia mematung di tempatnya setelah membaca kalimat itu. Merasa terpesona dengan kata-kata singkat yang dirangkai sederhana oleh seseorang yang bahkan belum ia kenal. Beberapa detik kemudian, laki-laki bertopi hitam itu bergegas pergi meninggalkan kedai kopi tersebut. Menerobos hujan. Menerobos malam yang sedang dipeluk dingin. 

Menempuh perjalanan sepanjang 950 meter, Alam Mahameru akhirnya sampai di salah satu tempat yang menjadi tujuannya saat ini. Sebuah tempat yang ia yakini, seseorang bernama Sahara Rona ada di sana. Ia mulai berkeliling di sekitar Jl. Asia Afrika. Meski di sepanjang jalan tampak cukup sepi selain dari suara kendaraan yang berlalu-lalang, ia tetap pada keyakinannya. Perlahan, kakinya mulai melangkah menuju ke terowongan bumi pasundan. Rupanya, di sana cukup ramai. Ada beberapa orang yang sedang berteduh. Sebagian lagi ada yang sedang asik berfoto dengan tulisan-tulisan legendaris pada terowongan tersebut. Dan satu orang gadis yang cukup menyita perhatiannya.

Sosok gadis itu tengah berdiri di ujung terowongan sana. Menengadahkan satu tangan untuk merasakan sensasi dingin tetesan air hujan yang turun dengan begitu menawan dari langit. Bajunya tampak sedikit lusuh. Ujung rambutnya terlihat lepek karena tidak tertutup penuh oleh topi cokelat yang dikenakan pada kepalanya. Alam menilai dengan jujur bahwa penampilan gadis itu sangat sederhana. 

Dari arah belakang, Alam mencoba untuk memanggil namanya. "Sahara Rona."

Dengan cepat, gadis itu membalikkan tubuhnya. Ketika sepasang mata mereka saling bertemu, pada detik itu juga waktu seolah berhenti. Membiarkan mereka tetap pada atmosfer yang dingin namun terkesan hangat. 

"Darimana kamu tahu namaku?" tanya gadis itu, memecah keheningan di antara mereka.

Alam mengulas senyum tipis sebagai ungkapan kelegaan dalam hatinya. Atas dugaannya yang tepat. Atas segala hal yang terjadi dengan begitu cepat hari ini. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku bersampul hitam yang sedari tadi berada dalam genggaman tangannya. "Dari buku ini," jawabnya.

Gadis itu tampak terkejut. Merasa tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini. Sebuah buku yang hampir membuatnya gila hari ini. Sebuah buku yang sudah membuatnya mampu berjalan hingga berkilo-kilo meter. Dan sebuah buku yang pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan seseorang bernama Alam Mahameru. 

Hidup memang penuh dengan kejutannya. Beberapa hal mungkin memang sempat membuat kita hampir merasa putus asa. Namun, kalau kita memilih untuk selesai saat itu juga, kita tidak pernah tahu tentang hal apa yang rupanya sudah menanti kita di depan sana. Yang kemudian membuat kita berpikir bahwa; beruntung karena aku bisa sampai di sini. Lalu membuat kita sadar. Perihal rencana Tuhan, yang rupanya memiliki cerita yang jauh lebih indah.

"Baru kali ini aku dengar seseorang memiliki cita-cita menjadi penduduk Bandung." Suara Alam kala itu tidak kalah dengan hujan. 

"Dan baru kali ini aku bertemu seseorang yang tidak menertawakan cita-cita itu," balas Sahara. 

Mereka masih di tempat yang sama. Terowongan bumi pasundan. Dengan punggung yang sama-sama bersandar pada dinding. Yang sama-sama saling bertukar cerita. Dan yang sama-sama sedang menunggu hujan reda. 

"Pengagum ISBI juga?" Kali ini suara Sahara juga tidak kalah dari hujan, meski derasnya tetap mendominasi.

Alam mengangguk sembari menunjukkan ID Card yang masih menggantung di lehernya. "Yang masih dianggap remeh sama orang-orang," katanya.

Sahara membinarkan kedua matanya. "Wah, kamu mahasiswa ISBI rupanya? Keren!" ucapnya dengan penuh rasa bangga. "Eh, maksudnya dianggap remeh itu gimana?"

"Bagi mereka yang hanya terpaku pada satu pemahaman bahwa orang hebat itu terlahir dari prestasi akademiknya, akan menganggap orang-orang seperti kita sulit berkembang." Alam memberikan penjelasan sembari memainkan kamera di tangannya. 

"Ah! Mereka itu manusia-manusia kaku dan kuno. Padahal seni itu penuh dengan keindahan. Penuh pesan dan kesan yang dikemas dengan cara-cara yang luar biasa," simpul Sahara. Setelah membenarkan posisi topi di kepalanya, ia kembali berbicara, "Selain ingin menjadi penduduk Bandung, aku juga ingin menjadi seorang seniman. Meski gagal terus masuk ISBI, aku tetap berusaha, bahkan dengan usaha yang lebih keras lagi. Meski melelahkan, tapi ini menyenangkan."

Mendengar perkataan Sahara, Alam mengulas senyumnya. "Jadi, bunga edelweis di sampul buku itu hasil lukisan kamu sendiri?" 

"Tebakan seorang Alam Mahameru memang tidak pernah meleset," sahut gadis itu.

Kali ini Alam terkekeh pelan. 

Meredanya hujan malam itu, membawa mereka untuk keluar dari terowongan bumi pasundan. Mereka melangkah beriringan di sepanjang jalan Asia Afrika menuju ke jalan Braga. Dengan kamera hitam yang masih setia menggantung di leher Alam Mahameru. Dan buku bersampul hitam yang berada dalam dekapan pemiliknya - Sahara Rona. 

Sesekali di tengah-tengah perjalanan mereka, Alam mencuri foto Sahara menggunakan kameranya. Saat gadis itu berlari-lari di sepanjang trotoar Asia Afrika. Saat gadis itu antusias melihat street library yang terpajang di sudut trotoar Asia Afrika. Saat gadis itu bermain genangan air. Saat gadis itu bermain kejar-kejaran dengan orang-orang yang mengenakan kostum hantu di jalan Braga. Saat gadis itu ikut meramaikan pameran seni yang sedang berlangsung di lokasi Paskal Food Market. Dan saat gadis itu menunjukkan hasil lukisannya. Lukisan sosok pemuda yang mengenakan kaos hitam dilapisi kemeja polos berwarna abu tua, dengan topi hitam yang terpasang di kepalanya, juga kamera hitam yang menggantung di lehernya. Di bagian bawah lukisan itu, Sahara meminta Alam untuk memberi tanda tangan setelah ia sendiri selesai melakukannya. 

"Kamu sudah andal mengambil gambar dengan kamera itu, tapi aku masih amatir dalam bermain warna, kuas, dan canvas. Jadi, maaf kalau hasilnya masih banyak kurangnya," kata Sahara sembari memberikan hasil lukisannya pada Alam. 

"Terima kasih. Akan aku pajang dalam kamar nanti. Atau boleh aku pajang di sini aja, biar banyak orang yang liat hasil lukisan kamu?" jawab Alam sembari menyimpan rasa kagumnya yang berlebihan. 

Sahara menolak dengan keras atas kalimat terakhir milik Alam. "Eh, jangan. Malu. Kamu simpan aja di tempat yang tersembunyi. Jangan dipajang, ya, Al. Please?" ujar gadis itu seraya memohon. 

"Lukisan ini udah jadi milik aku. Jadi terserah mau aku apakan," timpal Alam yang tampak tidak memedulikan permohonan dari Sahara.

Gadis yang mengenakan kaos polos dan celana cargo berwarna hitam itu menghela nafas berat. "Ya, ya, terserah kamu, Alam Mahameru." Lalu, ia melanjutkan perjalanan malamnya, setelah pada akhirnya ia memilih untuk mengalah saja dengan perdebatan mereka. 

Melihat ada sebuah delman yang lewat, Sahara segera menghentikannya. "Delman!" teriaknya sembari melambaikan tangan di tepi jalan. Alam segera menyusul gadis itu. "Kalau naik delman, enaknya ke mana, Al?"

"Satu lokasi lagi yang perlu kamu kunjungi saat di Bandung, Ra." 

Usai mengatakan itu, Alam berjalan ke arah delman yang sudah berhenti. Ia berbincang sebentar dengan sopir delman tersebut. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu memberi kode pada Sahara untuk naik. Beberapa detik setelahnya, Alam juga ikut naik dan duduk berseberangan dengan Sahara.

Perjalanan mereka diwarnai dengan cerita yang tidak habis-habis tentang Bandung dan pesonanya. Pun dengan tambahan cerita penuh kesan dari Mang Dadang selaku sopir delman yang sedang mereka naiki saat ini. Salah satunya cerita mengenai betapa senangnya beliau karena mendapat pelanggan pertama hari ini, yakni mereka berdua. 

"Betah di Bandung, Neng?" tanya Mang Dadang yang ditujukan pada Sahara. Meski tanpa diberitahu pun, Mang Dadang sudah paham kalau Sahara adalah pengunjung Kota Bandung.

"Betah, Mang. Saya juga mau tinggal lebih lama di sini," jawab Sahara yang tidak lepas dari senyuman manisnya.

Mang Dadang tertawa mendengar itu. "Aya naon di Bandung, nu matak betah?"

Tidak mengerti apa yang diucapkan Mang Dadang kali ini, Sahara pun beralih menatap Alam di hadapannya. Memberi kode supaya ia mau membantu menerjemahkan perkataan dari Mang Dadang. 

"Mang Dadang bilang; memangnya ada apa di Bandung sampai-sampai bikin betah?" ucap Alam mulai menerjemahkan Bahasa Sunda ke Bahasa Indonesia.  

"Ada cinta, Mang," jawab Sahara apa adanya. 

Mang Dadang tertawa sekali lagi. "Enya enya. éta alesan geulis lumrah," jawab pria paruh baya itu.

"Iya-iya, itu alasan yang cukup masuk akal, katanya," ujar Alam menerjemahkan lagi. 

Kali ini berganti Sahara yang tertawa pelan setelah mengetahui jawaban dari Mang Dadang. 

Di tengah-tengah perjalanan mereka, Alam kembali bermain dengan kameranya. Menangkap gambar gadis itu berkali-kali lagi. Tentang tawanya, sedihnya, bingungnya, terkejutnya, kagumnya, dan semua hal yang berhubungan dengannya. Karena bagi Alam, lebih dari Bandung; Sahara jauh lebih indah dengan segala kesederhanaannya. 

Setengah jam berlalu, sampailah mereka di lokasi yang Alam maksudkan. Jalan Dago, Bandung. Mereka mulai menyusuri jalanan panjang yang dihiasi oleh tiang-tiang tinggi bernuansa klasik dengan lampu-lampu yang menerangi area jalanan tersebut. 

Pada menit ke sepuluh, Sahara memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di trotoar jalan Dago. Ia membuka lembar kosong dari buku bersampul hitam miliknya. Tak lupa dengan pensil 2B dan juga penghapus yang tinggal setengah bagian. Dengan penuh ketelitian, Sahara mulai menggambar sesuatu di sana. Dan Alam yang tidak ingin kehilangan momen itu, mulai memainkan kembali kameranya. 

"Bandung setelah hujan adalah jatuh cinta yang selalu ingin aku ulangi berkali-kali." Sahara menuliskan kalimat itu di bawah sketsa jalanan Dago yang sudah selesai ia buat. 

Bicara tentang Bandung, memang tidak ada habisnya. 

Lalu, ia kembali membuka lembar kosong selanjutnya, dan mulai menggambar satu tema lagi. Tidak jauh berbeda dengan hasil lukisannya di pameran seni, seseorang yang sama kembali ia abadikan melalui karyanya. 

"Alam Mahameru adalah alasan baru untukku kembali berulang kali lagi." Tulisan itu pun ia letakkan di bagian bawah hasil sketsa keduanya. 



Jateng, 03 Februari 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ending (Bulan Merah Jambu)

Rezeki