Bulan Merah Jambu bagian 2

 Bagian dua—Bulan Merah Jambu






"Selamat datang di Negeri Paman Sam, Lan. Apa kabar?" Seseorang mengulurkan tangannya pada Bulan, tepat setelah Ia turun dari pesawat yang sudah membawanya sampai ke sini. Sebuah Negara yang dijuluki sebagai Negeri Paman Sam sejak tahun 1812 lalu. Sebuah negara yang di dalamnya berdiri satu Universitas terbaik di dunia. Ya. Harvard University. Salah satu universitas yang telah merekrutnya untuk menjadi bagian dari orang-orang bergelar hebat pada jajarannya. Sungguh sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Hampir saja tidak percaya, bahwa laki-laki yang sudah tidak ditemuinya selama kurang lebih tujuh tahun itu telah ada di hadapannya sekarang. Dengan ragu, Bulan membalas uluran tangan itu. "Baik. Kamu sendiri bagaimana, Pram?" Tanyanya kemudian.

Laki-laki itu tersenyum tipis, "Seperti yang kamu lihat. Pretty good!" 

Mereka melanjutkan perbincangan sembari berjalan beriringan keluar dari bandara. Koper besar milik Bulan berada di tangan Pram. Bahkan topi biru milik Pram sudah terpasang cukup rapi di kepala Bulan. Entah apa maksudnya.

"Gimana caranya kamu bisa tahu kalau aku di sini, Pram?" Suara Bulan memecah keheningan yang sempat ada di antara mereka.

"Perempuan yang ramai diperbincangkan seperti kamu, semua orang tahu kabarnya, Lan. Memangnya kamu lupa, siapa kamu sekarang?" Pram sempat terkekeh di tengah-tengah kalimatnya.

Bulan merasa sedikit malu, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku pikir berita itu tidak sampai ke kamu. Rupanya, ramai dengan seluas itu, ya?"

"Tentu saja. Beruntung, aku tidak sedang terbang ke bulan. Jadi, bisa bertemu dengan Bulan di bumi, hehe," ujar laki-laki itu sembari tertawa setelahnya.

Bulan ikut tertawa mendengar lelucon klasik milik Pram. "Bulan di atas sana, indah, ya, Pram?" 

Dengan cepat Pram menggeleng.

"Kenapa?"

"Masih indah Bulan yang ada di bumi." 

Kalimat tersebut berhasil menciptakan semburat merah di pipi gadis itu. "Masih jadi raja gombal ternyata," simpul Bulan seraya membenarkan posisi topi biru yang terpasang di kepalanya saat ini. Karena masih dalam keadaan berjalan, membuat topi yang sedikit kebesaran itu ikut bergerak-gerak.

"Masih. Tapi gak berlaku untuk semua orang."

Bulan menggeleng pelan. Sebelum memasukkan dirinya ke dalam mobil dengan pintu yang sudah Pram buka untuknya. Masih tidak berubah juga sikap manisnya. Kalau begini ceritanya, doa milik Kak Zoe sepertinya sudah didengar oleh Tuhan. Setelah ini, Bulan pasti akan langsung mengabarinya. 

Ingat, Bulan, kamu kesini untuk mengenyam pendidikan. Bukan untuk mengulang cerita lama yang sialnya masih bersemayam, monolog Bulan dalam hatinya.




****




"Sebelum berjarak kembali. Hari Rabu di Siesta Key Beach, dua jam sebelum matahari tenggelam. Semoga berkenan, ya, Lan." Pram menyerahkan dua tiket masuk—salah satu pantai yang ada di sebuah Negara dengan julukan negeri Paman Sam—tersebut kepada Bulan. Setelah memastikan gadis itu mendapatkan tiketnya, Ia segera beranjak pergi.

Bulan memandangi kertas pemberian Pram itu cukup lama. Sembari berpikir atas pilihan yang harus segera Ia buat. Hari Rabu adalah hari yang sama di mana Ia harus menemui orang penting dari kampusnya. Seseorang yang memiliki jasa besar atas pencapaian mimpinya, sehingga Ia dapat menginjakkan kaki di sebuah Universitas favorit dunia itu. Ini pilihan yang sulit.

"Hari Rabu, untuk siapa waktunya?" Monolog gadis itu dengan raut wajah bimbang.

Pilihan memang selalu menawarkan hal-hal yang terkesan sulit. Namun sebenarnya, kita hanya perlu memahami, mana yang benar-benar kita butuhkan untuk hidup yang bermakna. Bukan yang paling penting, melainkan yang paling pantas mendapatkannya.

Nasehat seseorang terlintas begitu saja dalam kepala Bulan. Meresapi makna dari kalimat itu, pelan-pelan Ia akan mendapat kemudahan dalam menentukan pilihannya. Ingat, bukan yang terpenting, melainkan yang paling pantas mendapatkannya.




—bagian dari Cerita BULAN MERAH JAMBU setelah mereka bertemu kembali dalam satu dimensi ruang yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ending (Bulan Merah Jambu)

Bandung Setelah Hujan

Rezeki