HUT RI ke 76
Selamat Ulang Tahun Negeriku INDONESIA
Hari kemerdekaan RI yang ke-76
Tak terasa, sudah sejauh ini Negeri bebas dari penjajah bersenjata
Tak terasa, sudah selama ini kita menikmati keberhasilan sang pejuang berabad lalu lamanya
Jasa-jasa yang terkenang abadi sepanjang masa
Keringat berdarah menjadi saksi sejarah yang abadi sepanjang hayat
Terimakasih pahlawan
Terimakasih Indonesia ku
Di hari istimewa mu ini, aku persembahkan sebuah karya yang tak seberapa. Hanya sebuah apresiasi sederhana yang ku buat khusus di hari kemerdekaan Indonesia.
Cerita pendek yang berjudul "Sang Pemimpi(N)" karya : Istandna
SANG PEMIMPI(N)
Bendera Merah-putih berkibar di atas tiang yang tingginya setara dengan pohon kelapa. Sebuah tiang kokoh yang terpasang di samping rumah kayu minimalis nan sederhana milik keluarga Ganespati. Atap yang terbuat dari kayu jati, di mana tertutup penuh oleh dedaunan kelapa kering juga serabut kelapa.
Tepat di bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi, seorang pria paruh baya tengah sibuk mengumpulkan kayu-kayu yang baru saja ia potong menggunakan palu dan gergaji besi. Sementara di dalam rumah, seorang wanita tua tengah duduk manis di depan tungku api-sebut saja Pawon. Terdapat panci di atasnya, yang berisi masakan santan dengan umbut kelapa sebagai bahan dasar utamanya.
"Ma, bolehkah Raden merantau ke negeri orang?" Ujar seorang lelaki remaja bernama Raden Ganespati, yang mengajukan pertanyaan pada wanita tua itu.
"Jangan banyak tingkah, kau Raden! Kita ini orang susah. Mau makan apa kau di sana? Tinggal di mana kau di sana? Mau jadi gelandangan kau?" Jawab wanita itu.
"Rejeki kan sudah diatur, Ma. Kalau kita mau berusaha, pasti Allah kasih jalan. Bukankah seperti itu kalimat yang selalu Mama ajarkan pada Raden?" Raden berjalan mendekati mamanya.
"Tau lah aku, tapi dapat uang darimana kita untuk memberangkatkan kau ke sana? Sudahlah, diam saja di negeri sendiri" wanita itu selalu menyangkal segala ucapan ataupun permohonan Raden, putranya.
"Kesal lah Raden, bicara sama Mama!"
Raden menghela nafas berat seraya bangkit dari duduknya. Rasa kecewa itu datang lagi dalam hatinya. Berkali-kali mimpinya dipatahkan, bahkan oleh orang terdekatnya sendiri. Karena merasa suntuk, Raden pergi keluar dari rumahnya. Ia berjalan menghampiri lelaki tua yang tengah duduk sembari menyeruput kopi di samping rumah, tepatnya di bawah rindangnya pohon kelapa.
"Pak" panggilnya.
"Apa? Mau kopi, buatlah sendiri!"
"Bukan pak. Raden pengen merantau pak" ucapnya tanpa basa-basi.
"Kemana? Negeri orang, seperti yang kau bilang setiap hari tu?" Tanya Ganespati pada putra semata wayangnya.
Raden mengangguk, "Boleh lah, pak? Kecewa kali Raden kalau bapak tak beri izin"
Ganespati menggelengkan kepala sembari tersenyum. Memang tidak ada yang salah jika punya mimpi, namun bila belum mampu menggapainya jangan dulu dipaksakan. Karena waktu terus berjalan, hari silih berganti. Langkah pun masih panjang.
"Besok pagi bersiaplah kau, ikut bapak" ujar Ganespati.
"Kemana pak?" Tanya Raden semangat.
"Tak perlu banyak tanya" balasnya.
Ganespati berjalan masuk ke dalam rumah kayu yang sudah bertahun-tahun menjadi tempatnya berteduh, berlindung, dan beristirahat sepanjang hari. Memang tampak sangat sederhana, namun kehangatannya tidak banyak dimiliki oleh orang-orang berpunya.
*****
Kantor kecamatan desa Marabak. Tulisan itu terpampang jelas pada bagian tembok depan kantor kecamatan. Di sana tidak begitu ramai orang, hanya beberapa pria seumuran Ganespati yang tengah bercengkrama ringan sembari mengisap rokok yang digulung manual.
Ganespati berjalan masuk ke dalam ruangan utama kantor kecamatan tersebut, diikuti oleh Raden di belakangnya. Mereka mendudukkan diri di salah satu kursi panjang yang tampak kosong. Ganespati meraih remot tv yang tergeletak di atas meja, kemudian menekan tombol power yang tengah diarahkan ke layar tv tersebut.
Raden menatap bingung pada Ganespati, "Bapak mengapa ajak Raden ke sini? Tak jadi kah bapak belikan tiket pesawat untuk Raden?" Ujarnya.
"Siapa pula yang mau beli tiket pesawat? Mimpi saja kau!" Timpal Ganespati.
"Cari apa Ganespati? Tumben sekali datang pagi-pagi?" Tanya seorang lelaki berseragam coklat pada Ganespati. Pada papan nama yang tertempel di dadanya tertulis, Drs. A. Hanyamwuruk, M.Pd. Beliau merupakan seorang kepala desa di kecamatan Marabak ini.
Ganespati tertawa renyah, "Tidak, aku hanya ingin meminta sedikit listrik di sini. Ku pinjam tv di kantor mu ini, tak perlu pakai surat pengantar bukan?"
Kali ini bapak kepala desa tersebut yang tertawa, "Pakailah sesuka mu, habiskan listrik kalau perlu" jawab pak Hanyamwuruk.
"Bisa saja kau" balas Ganespati.
"Ku tinggal tak ada masalah?" Tanya Hanyamwuruk.
Ganespati membalas dengan gelengan kepala, begitupun Raden.
Tidak heran jika Ganespati bisa bersikap seperti itu pada seorang kepala desa, karena mereka memang sepasang sahabat sejak kecil. Atas permintaan Hanyamwuruk sendiri, yang tidak mengizinkan Ganespati bersikap padanya seolah seperti seorang rakyat jelata pada abdi negara.
Setelah itu, Ganespati mengganti chanel televisi pada sebuah acara berita yang sedang berlangsung. Beliau tak lupa mengeraskan volume supaya suaranya bisa terdengar dengan jelas. Raden semakin bingung terhadap apa yang sedang dilakukan Ganespati.
"Pak-," ucapannya terpotong.
"Simak berita tu baik-baik" potong Ganespati. Beliau pun sedang menyimaknya dengan seksama.
Raden menurut. Ia menyaksikan berita yang sedang ditayangkan dengan tema, "Korupsi" kemudian berganti menjadi, "Keadilan" yang membahas sila ke-5 Pancasila.
Pada tema pertama yaitu "Korupsi" dalam berita tersebut dijelaskan bahwa seorang menteri negara melakukan tindak penggelapan uang rakyat. Pada masa pandemi ini, atasan pemerintah memberikan dana bantuan pada Masyarakat kurang mampu. Namun, pihak yang tidak bertanggung jawab justru memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari keuntungannya sendiri tanpa memikirkan nasib rakyat. Meski mereka pun tahu, sudah banyak Masyarakat miskin yang rela meregang nyawa hanya karena kelaparan dan kekurangan uang. Tidak ada empati, simpati sedikitpun. Begitu menyedihkan. Di mana yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin. Mencari kekayaan dengan cara yang salah, sampai rela mengorbankan banyak nyawa yang tak berdosa. Apa yang patut dibanggakan dengan kekuasaan yang dijunjung jayakan.
Berita tersebut mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan lalu, di mana seorang pejabat tinggi melakukan korupsi pada pedagang serta pebisnis kecil di pinggir jalan. Memang bagi mereka, jumlahnya tidak seberapa. Namun, bagi rakyat kecil nilainya teramat berharga. Raden pun mengingat saat di mana usaha kecilnya bersama sang bapak harus luluh lantak hanya karena kesalahpahaman kecil bersama sang pejabat. Karena keluarga Ganespati yang tidak memiliki banyak uang, tentu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan keadaan.
Masuk pada tema kedua yaitu "Keadilan" dalam berita yang ditayangkan menyebutkan bahwa keadilan di Indonesia yang mencakup pada sila ke-3 Pancasila, seakan luntur. Di mana rakyat rendah meski berbuat salah sebesar biji sawi pun akan dianggap fatal, sementara pejabat tinggi meski melakukan kesalahan sebesar bumi sekalipun akan tetap bisa dibenarkan. Semua ini tetap bersangkutan dengan uang. Karena pada jaman ini, uang bisa membeli segalanya bahkan jati diri sekalipun. Menakutkan bukan.
Berita kedua itupun membuat Raden kembali mengingat tentang masalah yang pernah dialaminya, satu tahun yang lalu. Dimana ia yang berurusan dengan anak seorang pejabat. Ia yang terpaksa harus bertanggung jawab terhadap kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan. Ia terpaksa mengakui kesalahan orang lain, demi keselamatan kedua orang tuanya yang terancam oleh sang ayah dari anak pejabat tersebut yang bisa melakukan segalanya dengan uang. Dan hal itu tidak terjadi sekali pada Raden semasa SMP dan SMA dulu, melainkan berkali-kali. Dirinya sudah cukup tabah dengan segala ujian yang pernah datang silih berganti.
Keluar dari topik berita, ada kejadian paling tragis yang menimpa keluarga Ganespati beberapa tahun yang lalu. Di mana seorang Ganespati yang pernah ditendang dengan sesuka hati, dicaci-maki tanpa henti, disiram, ditindas, dipaksa kerja rodi, dijadikan budak, dan tak segan-segan dianiaya oleh salah seorang pejabat tinggi daerah kota Jayapura. Peluh dan keluh pernah menjadi sebuah santapan harian bagi Ganespati dan juga Samrinda.
Menjadi korban bullying hanya karena berasal dari keluarga miskin pun pernah Raden rasakan. Hari-hari menyakitkan, detik-detik menegangkan, menit-menit menyayat hati, dan berjam-jam mencoba kuat sudah tersimpan baik dalam sejarah hidup seorang Raden Ganespati. Ia ingat betul, siapa saja yang pernah menyakitinya tanpa ampun. Siapa yang dengan tega menjadikannya babu, hanya karena mereka menganggap Raden tak layak berada ditengah-tengah lingkungan yang mereka anggap sempurna.
Sudah begitu banyak rintangan yang dilalui oleh keluarga Ganespati. Baik pundak Ganespati, Samrinda ataupun Raden sudah sama-sama kuat. Tak terusik badai apalagi hanya sebuah gerimis.
Tak lupa dengan kejadian dua hari yang lalu. Saat dalam kondisi pandemi seperti sekarang, di mana mencari sesuap nasi saja begitu sulit. Ditambah dengan kedatangan orang-orang besar yang dengan bangganya memaksa warga desa Marabak untuk meninggalkan tanah mereka, yang akan dijadikan sebuah gedung kaca bertingkat oleh pihak petinggi yang bersangkutan.
Untung saja, Raden cukup pandai dalam soal mengelabui tikus berdasi. Ya, itu karena selama ia bersekolah bukan hanya ilmu yang dicari. Melainkan juga mempelajari sebuah taktik serta strategi dalam menghadapi kerasnya dunia. Raden yang bukan hanya pandai, tetapi juga cerdik dalam segala hal. Itu semua berkat nasehat-nasehat serta pelajaran hidup yang Ganespati dan Samrinda berikan setiap harinya.
Rasa kemanusiaan, kebijaksanaan, kesetiaan, kebelaskasihan, rasa cinta, dan juga rasa kasih sayang yang Raden tuai sejak dini mampu membuatnya menjadi seseorang yang berwibawa. Di mana selalu bisa berfikir realistis dan senantiasa menjadi andalan.
Kekurangan lelaki itu hanya satu, tidak pandai dalam mengolah waktu. Pernah beberapa kali ia gagal dalam sebuah urusan hanya karena kebodohannya dalam memanajemen waktu. Maka dari itu, Ganespati selalu menekankan pada putra tunggalnya itu mengenai betapa pentingnya waktu, makna waktu, cara kerja waktu, berjalan setiap detik, menit, jamnya waktu, serta fungsi waktu dengan sebaik-baiknya.
"Maksud bapak ajak Raden ke sini hanya untuk melihat berita di televisi?" Tanya Raden memastikan.
Ganespati mengangguk.
"Raden tahu masalah itu, pak. Harus berapa banyak Raden menontonnya?"
"Apa yang kau dapat dari isi berita itu?" Ujar Ganespati pada Raden yang duduk si sampingnya.
"Dapat berita itu lah pak" jawab Raden dengan kesal.
"Terbuka kah pikiran kau, tentang mimpi merantau ke negeri orang? Sedangkan negeri mu sendiri sedang tidak baik-baik saja" jelas Ganespati.
Raden terdiam sejenak setelah mendengar penuturan menusuk dari Ganespati, "Jadi, berita itu ada hubungannya dengan mimpi Raden ingin merantau pak?"
Ganespati mengangguk.
"Tidak salah dengan mimpi mu itu ingin berkunjung ke negeri orang. Yang salah itu waktumu" jelas Ganespati, namun perkataannya terkesan menggantung.
"Seperti yang Bapak Ir Soekarno pernah bilang, 'Perjuanganku mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan mu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri' kau tahu kutipan itu? Tahu lah semestinya. Sudah lulus SMA, tak tahu tak patut lah anak bapak kacau sekali" lanjut Ganespati.
"Raden tahu, pak. Jadi maksud bapak, sekarang kita sedang melawan bangsa kita sendiri?" Ulang Raden.
Lagi-lagi Ganespati mengangguk, "Ya. Mereka tikus-tikus berdasi, mereka yang disebut petinggi negara, mereka juga yang menjadi lawan rakyatnya. Ingat kan kau kejadian demo tahun lalu? Harusnya kau paham makna dibalik semua itu"
Kini berganti Raden yang mengangguk.
"Bantu perbaiki lah dulu kekacauan yang terjadi di negara kita ini, baru kau bebas pergi sesuka kau kemanapun. Anak muda seperti kaulah harapan bangsa ini. Bapak sudah tua, rambut bapak sudah beruban pula tak bisalah lagi bapak melawan" jelas Ganespati cukup panjang.
Ganespati menepuk bahu putranya, "Gapai mimpimu setinggi mungkin. Tapi setelah kau sukses nanti, jadilah pemimpin sejati. Takkan rugi bila kau banyak mengasihi. Takkan miskin bila kau banyak memberi. Takkan mati bila kau terus berbaik hati"
Raden mengangguk mendengar penjelasan dari bapaknya yang memilik banyak makna disetiap perkataannya. Hati Raden kini terbuka lebar. Pikirannya pun meluas. Karena semua penuturan Ganespati sangatlah benar. Nasehat yang beliau berikan begitu berkesan. Itulah sebabnya, Raden sangat menghormati Ganespati. Jika dibilang, Raden jauh lebih dekat dengan Ganespati daripada Samrinda, ibunya. Ditambah, Samrinda yang suka mengomel semakin membuat Raden tidak tahan jika harus berlama-lama dengannya. Tapi tetap saja baginya, mereka sama-sama berarti di hidup Raden selamanya.
*******
(Sepuluh tahun kemudian)
Tentang mimpi yang terus diperjuangkan
Tentang harapan yang terus disemogakan
Dan tentang Negeriku yang terus tertanam dalam hati
Saya Raden Ganespati putra Ganespati, berdiri di sini untuk memperjuangkan keinginan terbesar saya
Dan tujuan saya berada di sini adalah untuk menunjukkan pada dunia bahwa orang miskin seperti saya pun bisa berperan penting bagi Negara
Seperti inilah kisah saya,
Saya orang miskin yang dulu begitu sering diinjak-injak
Saya orang miskin yang selalu mendapatkan cacian
Saya orang miskin yang tidak pernah di beruntungkan
Saya orang miskin yang senantiasa di anggap rendah
Dan saya orang miskin yang selalu di pandang sebelah mata
Terimakasih karena injakan kalian, cacian kalian, ketidakberuntungan yang kalian berikan, anggapan rendah dan sebelah mata kalian lah yang membuat tekad saya berkobar, sehingga saya bisa berada di sini sekarang
Namun tanpa perjuangan keringat darah dari Bapak dan Ibu saya, tidak mungkin saya berhasil dan berjaya. Akan saya pastikan mereka bangga terhadap pencapaian saya. Dan akan saya buat mereka tersenyum bahagia di surga. Bapak Ganespati dan Ibu Samrinda yang terkenang sepanjang hayat
Sebuah prinsip besar yang saya pegang selama ini tentang mimpi yaitu, Bermimpi lah setinggi mungkin, sampai orang menganggap kamu gila karena mimpi itu. Lalu buat mereka gila dengan pencapaian mu
Terimakasih
Suara tepuk tangan mengiringi langkah Raden saat kembali duduk pada singgasana yang telah disediakan. Semua merasa takjub akan cerita alias kisah perjuangannya yang baru saja Raden lantangkan di depan seluruh rakyatnya.
Raden mendudukkan diri pada sebuah kursi tinggi yang berada di bagian tengah singgasana. Sembari tersenyum bangga, Raden berkata dalam hatinya,
"Bapak Soekarno, Bapak Ganespati, izinkan Raden memimpin Negeri ini dengan sepenuh hati. Raden janji untuk menjadi pemimpin yang sejati. Menjadi kepala negara yang bijaksana. Dan menjadi kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Raden akan melanjutkan perjuangan ini meski sampai titik darah penghabisan. Raden akan menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan. Raden akan pastikan, tidak ada lagi kemiskinan dan rakyat mati kelaparan. Karena Raden mencintai mereka semua, seperti Raden mencintai kalian berdua. Terimakasih perjuangannya, Bapak Ir Soekarno. Dan terimakasih ilmu sepanjang hayatnya, Bapak Ganespati."
Kini bendera Merah-putih berkibar gagah bukan lagi hanya pada tiang setinggi pohon kelapa, melainkan pada tiang besar di atas gedung tinggi milik negara. Namun bagi Raden, kesannya tetap sama. Yang berbeda hanya suasananya. Melihat senyum rakyat, membuat hati Raden lega. Dan senyum Bapak, Ibunya di surga, ingin segera ia lihat malam nanti dalam mimpinya.
-istandna
-Tamat-
Pesan Bapak Ganespati : "Takkan rugi bila kau banyak mengasihi. Takkan miskin bila kau banyak memberi. Takkan mati bila kau terus berbaik hati"
Pesan dari Bapak Ir Soekarno : "Perjuangan ku lebih mudah karena melawan penjajah. Sedangkan perjuangan mu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri"
Pesan dari Raden : "Bermimpi lah setinggi mungkin, sampai orang menganggap kamu gila karena mimpi itu. Lalu buat mereka gila dengan pencapaian mu"
Jangan lupa kasih komentar atau tanggapan kalian untuk cerpen ini!!
Semoga bermanfaat dan menginspirasi
Istandna undur diri, terima kasih dan salam kemerdekaan!
Komentar
Posting Komentar