I can definitely change!

 Assalamualaikum


Straight to!


Awan hitam seakan mengikuti ku sepanjang perjalanan ini. Seolah memberi sebuah pertanda bahwa seperti itulah rupa kabut dalam hatiku. Hitam dan gelap. Mungkin hanya setitik saja percikan cahaya yang menjadi jeda keseluruhan warna. Aku merasa seperti, hidup tapi mati. Hidup tanpa tujuan, mati tanpa harapan. Kosong!

Rasanya kosong. Bagai tertunduk dalam ruang gelap sekaligus senyap. Udara seakan menguap habis tanpa sisa. Apakah seperti ini, saat-saat mati rasa?

Rasanya, aku tak tahu arah. Dunia seakan terhenti tanpa rasa bersalah. Dan aku sudah lelah.

Aku menoleh ke samping kiriku. Kain putih berenda yang terlipat rapi di atas sajadah itu seakan berdebu. Kitab suci Al-Quran yang tersimpan indah di atas nakas seperti memalingkan wajah dariku. Tasbih yang tergantung tenang seakan enggan untuk ku pegang. Aku sadar, bahwa aku telah melangkah sangat jauh.

Dimana aku? Aku tersesat!

Kemana aku harus kembali pulang?

Perlahan setitik cahaya yang awalnya hanya sebatas jeda, kini semakin menyeruak. Menghempas kabut hitam yang hampir menutupi seluruh hatiku. Aku membiarkannya.

Ku raih sajadah panjang yang hampir usang, lalu ku gelar dengan hati yang lapang. Ku kenakan kain putih berenda itu ditubuh ku, rasa hangat seperti menjalar cepat pada aliran darahku. Ku ucapkan niat yang sudah lama tersemat, namun tak kunjung ku tuturkan dengan alasan tak sempat.

Ketika dahi ku menyentuh sajadah, tepat saat itu juga aku berucap pasrah. Dan tiba saat dua salam telah usai, ku angkat kedua tangan menengadah.

Bibirku tak sanggup bergerak. Kedua mataku terpejam, demi menahan sebuah aliran yang terkadang susah dikondisikan. Aku mengaku kalah, atas rasa bersalah yang sebelumnya tak kunjung merendah.

Aku malu. Sudah terlalu jauh aku meninggalkan pemilik ku. Sudah terlalu sering aku menyombongkan diri dengan sang pencipta. Dan, sudah terlalu lama aku berlari di atas dunia yang fana dan hanya gurauan semata.

Aku lupa. Tentang apa sebenarnya tujuan ku hidup di dunia. Tentang apa yang seharusnya aku perjuangkan secara nyata. Dan tentang kehidupan kekal yang sebenarnya.

Aku sadar. Sebelumnya aku lalai. Hatiku keras dan terasa panas. Pikiranku tak karuan tanpa tujuan yang beralasan. Serba salah. Duniaku benar-benar terasa hampa. Gundah, gelisah, resah dan semua terasa susah karena aku telah hilang arah.

Akhirnya, aku tahu. Aku bukan kehilangan bahagia atas dunia, tetapi akulah yang terlalu jauh dengan sang pencipta, sang pemilik segalanya. Aku kehilangan rasa syukur. Aku kehilangan sebuah makna kehidupan yang sebenarnya.

Aku mulai kembali. Kumandang adzan yang sebelumnya selalu ku abaikan, kini sedang aku perjuangkan ketepatannya. Aku mulai kembali bersahabat dengan Ayat-ayat-Nya. Aku mulai kembali dekat dengan-Nya. Aku akui, aku telah merasakan perbedaannya.

Ternyata, hidupku tidak ada apa-apanya tanpa-Nya. Hidupku tidak ada artinya tanpa kebesaran-Nya. Aku hanyalah sebuah debu tanpa keagungan-Nya.

Aku harus berhasil menjemput kebahagiaan lillahita'la. Akan ku perjuangkan cintaku untuk menggapai cinta-Nya. Akan aku buat kembali utuh hatiku hingga berwarna dengan kasih-Nya.

Akan aku tetapkan sedalam-dalamnya cinta ini hanya pada-Nya. Sang Maha Kuasa, Sang Maha Segalanya, Sang pemilik nyawaku, Sang Maha Cinta.

Aku akan berjuang, mengalahkan nafsu atas godaan syaitan yang kadangkala sanggup melalaikan. Aku tidak akan kalah lagi oleh segala hasutan. Akan aku pastikan, bahwa aku akan menang!



I Love Allah, I will fight to get to Jannah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ending (Bulan Merah Jambu)

Bandung Setelah Hujan

Rezeki